Selasa, 09 April 2013

Merasa Militan? Think First!

Bismillah…
Aku adalah kader tarbiyah yang lahir dari rahim dakwah kampus. Terbiasa dengan tingkat dinamisasi yang tinggi. Berangkat dari satu kajian ke kajian yang lain. Dari satu syuro ke syuro yang lain. Dari agenda dakwah yang satu ke agenda dakwah yang lain.
Tak pernah absen dalam ta’lim, selalu bersemangat kala tabligh akbar, tak pernah lelah menghadiri liqo. Demo? Kegiatan favoritku. Sering aku dan teman-teman berdiskusi tentang dunia keislaman, membedah buku-buku bermutu. aku merasa aku adalah kader yang kuat dan tangguh, tak ada masalah apapun yang mampu membuatku surut melangkah di jalan ini
Hingga,  suatu ketika, aku harus kembali ke kota kelahiran. Nun jauh dari gemerlapnya dunia dan dakwah.  Aku tercekat kala menghitung jumlah kader dakwah di daerah ini. Satu… dua... ah… tak lebih dari 10 orang.  Terperanjat aku kala mengetahui harus liqo dengan jarak puluhan kilometer atau mengisi kajian yang harus ditempuh melewati hutan-hutan sunyi. Tak ada ta’lim, tak ada kajian-kajian rutin menambah tsaqofah keislaman ataupun tabligh akbar. Tak ada diskusi, tak ada bedah buku. Tak ada…
Yang ada hanyalah berdakwah dalam keterbatasan. Bekerja sekeras mungkin. Kerja yang hanya dilakukan orang-orang yang tak lebih 10 orang ini.
Aku menghela nafas panjang. Aku futur…. Aku lelah…
Sekarang aku memahami, mengapa aku dulu bisa tegar dalam aktivitas-aktivitas dakwah. Ternyata, aku kuat bertahan dalam dakwah ini karena dulu aku diberi fasilitas dan sarana yang banyak untuk tetap bertahan. Kala aku merasa futur, banyak sekali kajian-kajian yang meletupkan semangatku lagi, kala aku lelah ada  murobbi  luar biasa yang selalu mendampingiku.
Aku tumbuh dalam kemanjaan dakwah. Dan ketika aku pergi ke padang tandus, maka aku tergagap dan tersentak.
Aah… Untuk pertamakalinya aku menyadari, ternyata aku lemah…
Maha Besar Allah yang memilih orang-orang ini. Meski sedikit jumlahnya, mereka selalu tersenyum dan bersemangat. Menularkan semangat padaku yang terus menyesali keadaan. Mereka yang yakin akan janjiNya, bahwa Allah akan menolong mereka yang menolong agama Allah.
Kadang, ada rasa iri dan cemburu melihat berita teman-teman seperjuangan yang mampu memutihkan kota, kala ribuan kader berkumpul. Meneriakkan panji-panji kemenangan. Rabbi… ada butiran bening tertahan dipelupuk mataku.
Keadaan takkan mampu membuat kami meninggalkan dakwah ini. Pun ketika idealisme kami -para akhwat- yang ingin menikah dengan ikhwan sefikroh mesti kami lenyapkan karena tak ada kader ikhwan bujangan.  
Lalu, apakah hal ini menyurutkan langkahku? Insya Allah tidak. Meski suami bukan kader dakwah, namun kerjanya untuk dakwah melebihi kontribusiku untuk jamaah ini. Begitu pula suami-suami akhwat lain yang tak segan membantu kerja-kerja dakwah kami.
Inilah dakwah itu. Tak ada alas an untuk menyerah. Karena jalan ini sungguh amat panjang, penuh onak dan duri. Maka, sedikitnya jumlah takkan mampu menggentarkan kami untuk memenangkan dakwah ini. Karena kami adalah jiwa-jiwa badar.

0 komentar:

Posting Komentar