Aku adalah kader tarbiyah yang lahir dari rahim dakwah
kampus. Terbiasa dengan tingkat dinamisasi yang tinggi. Berangkat dari satu
kajian ke kajian yang lain. Dari satu syuro ke syuro yang lain. Dari agenda
dakwah yang satu ke agenda dakwah yang lain.
Tak pernah absen dalam ta’lim, selalu bersemangat kala
tabligh akbar, tak pernah lelah menghadiri liqo. Demo? Kegiatan favoritku. Sering
aku dan teman-teman berdiskusi tentang dunia keislaman, membedah buku-buku
bermutu. aku merasa aku adalah kader yang kuat dan tangguh, tak ada masalah
apapun yang mampu membuatku surut melangkah di jalan ini
Hingga, suatu ketika,
aku harus kembali ke kota kelahiran. Nun jauh dari gemerlapnya dunia dan
dakwah. Aku tercekat kala menghitung
jumlah kader dakwah di daerah ini. Satu… dua... ah… tak lebih dari 10
orang. Terperanjat aku kala mengetahui
harus liqo dengan jarak puluhan kilometer atau mengisi kajian yang harus
ditempuh melewati hutan-hutan sunyi. Tak ada ta’lim, tak ada kajian-kajian rutin
menambah tsaqofah keislaman ataupun tabligh akbar. Tak ada diskusi, tak ada
bedah buku. Tak ada…
Yang ada hanyalah berdakwah dalam keterbatasan. Bekerja sekeras
mungkin. Kerja yang hanya dilakukan orang-orang yang tak lebih 10 orang ini.
Aku menghela nafas panjang. Aku futur…. Aku lelah…
Sekarang aku memahami, mengapa aku dulu bisa tegar dalam
aktivitas-aktivitas dakwah. Ternyata, aku kuat bertahan dalam dakwah ini karena
dulu aku diberi fasilitas dan sarana yang banyak untuk tetap bertahan. Kala aku
merasa futur, banyak sekali kajian-kajian yang meletupkan semangatku lagi, kala
aku lelah ada murobbi luar biasa yang selalu mendampingiku.
Aku tumbuh dalam kemanjaan dakwah. Dan ketika aku pergi ke
padang tandus, maka aku tergagap dan tersentak.
Aah… Untuk pertamakalinya aku menyadari, ternyata aku lemah…
Maha Besar Allah yang memilih orang-orang ini. Meski sedikit
jumlahnya, mereka selalu tersenyum dan bersemangat. Menularkan semangat padaku
yang terus menyesali keadaan. Mereka yang yakin akan janjiNya, bahwa Allah akan
menolong mereka yang menolong agama Allah.
Kadang, ada rasa iri dan cemburu melihat berita teman-teman
seperjuangan yang mampu memutihkan kota, kala ribuan kader berkumpul. Meneriakkan
panji-panji kemenangan. Rabbi… ada butiran bening tertahan dipelupuk mataku.
Keadaan takkan mampu membuat kami meninggalkan dakwah ini. Pun
ketika idealisme kami -para akhwat- yang ingin menikah dengan ikhwan sefikroh
mesti kami lenyapkan karena tak ada kader ikhwan bujangan.
Lalu, apakah hal ini menyurutkan langkahku? Insya Allah
tidak. Meski suami bukan kader dakwah, namun kerjanya untuk dakwah melebihi
kontribusiku untuk jamaah ini. Begitu pula suami-suami akhwat lain yang tak
segan membantu kerja-kerja dakwah kami.
Inilah dakwah itu. Tak ada alas an untuk
menyerah. Karena jalan ini sungguh amat panjang, penuh onak dan duri. Maka,
sedikitnya jumlah takkan mampu menggentarkan kami untuk memenangkan dakwah ini.
Karena kami adalah jiwa-jiwa badar.







0 komentar:
Posting Komentar